oleh

Transportasi Minim, Kisah Haru Warga Sinjai Tandu Pasien 2 Kilometer

SINJAI, KULITINTA– Potret memprihatinkan kembali terlihat di Kabupaten Sinjai. Seorang anak perempuan bernama Putri (11 tahun) terpaksa ditandu oleh keluarga dan warga sejauh kurang lebih 2 kilometer untuk mencapai titik yang dapat dilalui mobil ambulans pada Selasa (9/6/2026) sekitar pukul 10.00 WITA.

Di tengah berbagai klaim pembangunan dan peningkatan pelayanan publik, kenyataan di lapangan justru memperlihatkan kondisi yang berbeda. Ketika seorang anak sakit dan membutuhkan penanganan medis, masyarakat masih harus mengandalkan tenaga manusia sebagai “ambulans” untuk melewati akses yang tidak dapat dijangkau kendaraan.

Keluarga pasien, Syarifuddin mengaku bahwa kejadian seperti ini bukanlah peristiwa yang pertama kali terjadi.

“Hal seperti ini sering kali kami lakukan ketika ada masyarakat yang sakit dan perlu perawatan,” ungkapnya.

Syarifuddin juga berharap pemerintah serius memberikan perhatian kepada masyarakat setempat. “Jangan karena kami sudah sering dijanji tapi belum ada bukti dan kerja nyata,” ujarnya.

“Saya sebagai mantan kepala Dusun di Tonrong memohon agar pemerintah bisa membantu kami karena yang bisa membantu kami hanya pemerintah dan Tuhan,” harap Syarifuddin.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa masalah yang terjadi bukan lagi insiden sesaat, melainkan persoalan yang telah berlangsung lama dan berulang. Ironisnya, hingga hari ini masyarakat masih dipaksa menghadapi risiko yang sama setiap kali ada warga yang membutuhkan layanan kesehatan darurat.

Pertanyaan yang layak diajukan adalah: ke mana arah pembangunan daerah jika warga masih harus memikul pasien di pundak mereka untuk mendapatkan pelayanan kesehatan? Infrastruktur jalan yang layak bukan sekadar proyek fisik, melainkan jalur penyelamat nyawa. Ketika akses menuju permukiman tidak mampu dilalui ambulans, maka yang terhambat bukan hanya mobil, tetapi juga hak masyarakat untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang cepat dan memadai.

Gotong royong warga memang patut dihargai. Namun, kondisi ini juga memperlihatkan bagaimana masyarakat terpaksa menutupi kekurangan layanan publik dengan tenaga dan pengorbanan mereka sendiri. Di saat pemerintah berbicara tentang pembangunan, warga di pelosok masih berjalan kaki sambil memikul pasien yang seharusnya dapat dijangkau kendaraan medis.

Kejadian yang dialami Putri menjadi bukti bahwa kesenjangan pembangunan masih nyata dirasakan oleh masyarakat pedesaan. Selama warga masih harus menandu pasien berkilometer untuk bertemu ambulans, maka sulit mengatakan bahwa pelayanan kesehatan telah hadir secara merata. Sebab dalam kondisi darurat, yang dibutuhkan masyarakat bukan janji, bukan laporan keberhasilan, melainkan akses yang benar-benar dapat menyelamatkan nyawa.

Jika pada tahun 2026 masih ada anak yang harus ditandu sejauh 2 kilometer untuk mendapatkan akses ambulans, maka yang perlu dievakuasi bukan hanya pasien, tetapi juga keseriusan pemerintah dalam memastikan pelayanan dasar menjangkau seluruh warganya.(**)

Laporan (Akmal)

Editor (Misteri)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *